Logika VS Ketertarikan
Itu yang aku tulis dengan semangat 45 di buku catetan. Aku tangkap dari perkataan seorang dosen mata kuliah Metlit. Ngeee? Tapi, kagak semua juga tentang itu. Itu cuma selingan supaya mahasiswanya kagak ngantuk. Keren deh! Beberapa kali di kuliah itu, selain ngantuk, kadang ketawa hahahihi karena selingan-selingan dari beliau. Malahan pernah satu hari, ada beberapa menit saja bapak itu lebih mirip Mario Teguh. Super sekali!
Anak ilkom itu sudah terbiasa dengan logika. Ketika ada melewati jalan yang susah atau buntu, mungkin, mereka akan mencari jalan lain sampai ketemu. Mereka itu terbiasa tekun. Hmmmb, prosedural tapi tetep berteman dengan spontanitas (?)
Nah, soal cinta eh pasangan, apa harus memakai logika juga ? Kalau logika itu dipakai, berarti sebelum ‘terkait’ harus menghitung nilainya dulu. Nilai disini adalah sikapnya, babat-bibit-bobot-nya. Berapa kali dia senyum tiap hari? Berapa kali dia cemberut tiap hari? Berapa cm senyumnya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Terus dihitung nilainya. Kalau nilainya dibawah enam, langsung TOLAK. Hyaaaa….
Sebaliknya mungkin ada juga orang yang ketika melihat seseorang yang ‘cling’, langsung tertarik. Iya, kadang tanpa alasan. Langsung suka. Ahaha. Dan, setelah ada ikatan, baru deh orang itu baru menghitung nilai seseorang yang ‘cling’ tadi. ‘Oh, dia itu baik.’
Kata Mbak Agnes juga, cinta ini, kadang-kadang tak ada logika.
Yeeee, bermilyar-milyar kisah cinta, entah pake logika atau langsung tertarik/minat pada seseorang, tetep tugas-tugas ini harus diselesain secepatnya!
…, explore posible strategies, act on the strategies, look back and evaluate the effects of your activities (Bransford)




