Posted in Uncategorized

Akhirnya

Sejak malam, aku agak bergelut batin untuk agenda pagi ini. Di sekolah yang satu, ada pertandingan futsal guru perempuan dan siswi. Ya, sebagai kegiatan perayaan ulang tahun Indonesia. Di sekolah yang kedua, ada perlombaan futsal antar guru dan beberapa perlombaan lain. Dan sebelumnya, aku sudah punya rencana silaturahmi ke mantan sekolah yang tahun ini aku tinggalkan. Setelah itu, pergi belanja dengan ibu.

Cenderungnya, aku akan membatalkan acara silaturahmi dan shopping itu. Tidak ikut partisipasi di sekolah pertama juga. Alasannya karena aku ingin menonton lomba-lomba itu yang pastinya rame. Ada alasan lain juga sih. Maksudku, di sekolah yang kedua.

Dan pagi harinya, berubahlah haluan. Aku tetap pergi ke mantan sekolah dan sepertinya lanjut shopping. Ada beberapa pertimbangan.

Yeah.

image

Sedatangnya disana… Ketemu Bu Aan dan Bu Ria. Tahu komentar pertamanya?

“Mba, tambah gemukan ya.. Udah ngga ada pikiran ya?”

Ha? Serius.. -______-?

“Masa sih, Bu? Ngga Bu, biasa aja,”

Ngobrol-ngobrol, sambil sedikit kepo. Hihi.

And then, ketemu anak-anak yang dulu pernah diajar. Sekarang mereka kelas xii.

“Bu, mereka tuh yang pada kangen sama Ibu,” kata Bu Ria sambil menunjuk beberapa siswa yany lewat di depan ruang kantor.

Anak-anak itu. Mereka sepertinya pada kaget ketemu diriku lagi.

“Bu, ngajar disini lagi sih,”

“Bu, kangen diajar ibu maning cah,”

“Ke lab komputer yu Bu…”

Dan lain-lain.

Anak-anak itu laki-laki semua. Tidak jauh berbeda dari terakhir ketemu mereka. Wajahnya masih sama haha. Bedanya sekarang sudah agak rajin. Jumlah remedial mereka sudah berkurang. Tapi ada juga yang mengaku masih punya banyak hutang nilai.

Aku berharap semoga mereka jadi anak yang baik. Aamiin.

Posted in Uncategorized

Rumah

image
IG: _afikaar

Dulu, sewaktu SD sampai SMP, begitu senang ketika hari minggu datang. Masa SMA sudah agak terbiasa. Maksudku, tidak terlalu mengistimewakan si minggu.

Oke, jadi kenapa aku begitu menyukai hari minggu?
Karena hari minggu, aku tidak perlu berangkat sekolah. Bisa nonton kartun dari pagi sampai siang di rumah. Hmm, itu saja?
Tidak juga. Alasan utamanya, aku tidak suka berada di sekolah. Tidak nyaman.

Kenapa tidak nyaman?

Waktu itu aku tidak percaya diri. Mau melakukan sesuatu teh takut salah. Takut menyakiti orang lain. Teman akrab, ngga punya juga. Jadi ya, sendiri. Selain itu, kesenggol sedikit (tersinggung atau dikatain) langsung mewek.

Karena itu, sempat berpikir bahwa aku akan hidup nyaman di rumah. Bekerja di rumah. Apapun, di rumah. Tidak pandai kalau harus berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain.

Ternyata itu hanya pikiran sementara.

Sekarang, entah dimulai darimana dan kapan, aku justru lebih suka kegiatan di luar rumah. Aku bekerja di sekolah dengan karakter orang yang berbeda-beda. Malah ada orang yang hobi pisan membuat kalimat panas. Aku tetep mewek? Ngga dong. Terhadap orang-orang yang seperti itu, justru tidak perlu dihindari. Aku tetap berteman sambil membuat situasinya adem sedikit-sedikit.

Berada di luar.. Belajar sosialisasi juga. Iya sih. Senang sekali melihat berjuta ekspresi mereka. Alam juga berbicara. Alam itu indah. Walau hanya sebentuk awannya.

Yeah, pada akhirnya, sejauh-jauhnya tempat pergi. Seindah-indahnya tempat di luar. Seseorang akan pulang ke rumahnya.

Posted in Uncategorized

Do!

Kadang aku malas. Seringnya sangat malas. Termasuk, malas menulis juga.

Aku tidak punya target. Berjalan seadanya. Katanya mau jadi penulis buku, tapi akhir-akhir ini jadi berubah kalimatnya.

“Ah, mungkin tidak ditakdirkan jadi penulis…”

“Umur sudah seperempat abad, masih punya mimpi jadi penulis?”

Ya. Aku ingin meninggalkan cita-cita masa kecil itu.

Aah… Begitu banyak mimpi. Tapi (aku ingin menyalahkan rasa malas ini)…

Bukan begitu. Bukan karena malas, tetapi aku yang menyerah dengan mudah. Aku membiarkan aku hidup tanpa perlawanan. Tanpa strategi. Tanpa berjuang.

Apapun. Semuanya serasa dilepas. Seadanya. Toefl kagak jadi-jadi karena belum belajar. List lomba dicoret satu persatu karena terlewat. De el el.

Jadi, endingnya?
Satu kali lagi, sampai akhir Agustus.
Do!
Do!
Do!

Posted in Uncategorized

Luar Biasa

Hari ini aku janjian dengan seorang teman untuk datang kondangan bareng. Seperti biasa, janjiannya versi karet. Seperti biasa juga, aku bingung kenapa selalu datang lebih dulu daripada yang lain.

Aku duduk di depan Griya, di pinggir jalan. Melihat pemandangan. Mobil, motor, tukang parkir, tukang jual siomay, mba-mba yang makan siomay, pasangan nyebrang. Nah, akhirnya pandanganku terpaku pada pasangan yang bersiap-siap menyeberang itu. Seorang laki-laki yang tinggi, bersih, bersama perempuan putih dengan jilbab lebar serta gamis. Cantik. Mereka gandengan, sepertinya sudah menikah. Oke. Apa menariknya?

Laki-laki itu teman SMP. Kalau tidak salah, pernah sekelas. Aku ingat-ingat lagi, sewaktu SMP, dia anak yang tidak terlalu terkenal. Agak diam. Hitam tapi tinggi. Siapapun, mungkin akan ilfeel sama anak kucel plus dekil.
Lalu temanku itu berkuliah, entah dimana. Dan aku pernah lihat dari beranda Facebook yang lewat, dia cukup aktif di kampusnya.

Komentar, tidak menyangka saja. Keren. Lagi-lagi kasih sayang Allah lah yang jadi kuncinya. Unpredictable.

Posted in Uncategorized

Bismillah

Dimulai dari Ramadhan. Ramadhan kali ini dipenuhi tugas-tugas negara (red: sekolah) yang membuat hati berwarna-warni. Termasuk abu-abu. Di balik hiruk-pikuknya ada saja orang-orang yang mengatakan, “jangan terlalu sibuk dengan urusan dunia. Nggak akan pernah selesai”. Ada yang bilang juga, “waktu-waktu seperti ini harusnya ibadah di rumah”.

Ya. Sebenarnya, kembali meluruskan niat dengan apapun yang sedang dikerjakan. Niatkan untuk membantu orang lain. Niatkan karena ibadah. Aah tapi, aku tidak mau sengoyo itu dengan kerjaan.

So, sampai hari ini, aku masih punya tugas negara. Tugas yang aku pikir harus dituntaskan sebelum lebaran, aku biarkan.

Besok mulai lagi. Semoga beres. Aamiin.

Posted in Uncategorized

Sudah Lama

Sudah lama tidak menulis. Anggap saja aku terlalu sibuk bekerja. Ah, kadang aku diam-diam melepaskan mimpi demi mimpi. Tidak membiarkannya menjadi kenyataan. Dan menggantinya dengan mimpi yang lebih sederhana.

Aku pengecut kan?
Entahlah.
Hanya saja kadang aku tiba-tiba mengerjakan sesuatu. Tanpa rencana. Lupa bahwa itu adalah salah satu mimpiku.

Sebaliknya mimpi yang melangit, aku bingung bagaimana meraihnya. Rencana banyak dan panjang. Hebatnya aku belum pernah memulai.