0

Just

​Sometimes 

I want to go for a walk

Eat a delicious food (unhealthy) 

Drink a glass of juice or milk

Read novel or comic

Or sing with myself
Just get out from my routine
But

I don’t know ‘when’

I just know, He wanted me to do what i can do now

He wanted me to face problems with my best

Let it through 

Little by little
Allah love me

0

Manusia Tinggi

Kadang manusia itu jelas sekali tingginya. 

“Biar aku saja, ”

“Iya, aku bisa, ”

“Besok jadi kok, ”

Kadang kalimat seperti itu jadi celah. Celah yang diam-diam membuat hati mengeras. 

Ya. Ketika kalimat tidak terjawab, bisa membekas jadi beban. Kecewa. 

Jadi, kapan bilang, “insya Allah”?

0

Sendiri

​Sendiri. Kadang menyendiri itu menyenangkan. Walaupun ada beberapa waktu dimana aku ingin bertemu banyak orang. Bahkan ketika berada di keramaian pun aku suka menyendiri. 

Pada saat sendiri, aku sering berpikir, apakah aku sudah cukup baik? Apa Allah sayang padaku? 

Menjadi peran utama dalam kehidupan sendiri memang tidak mudah. Sering dihantui kata-kata sendiri –kamu sudah baik kok-. Ah, bodoh sekali.

Dalam keadaan sadar, maka niat akan diluruskan lagi. Bahwa di dunia ini, aku tidak butuh apapun selain Allah ridho padaku. Selain Allah yang sayang padaku. Lalu, fokuslah bagaimana melakukan hal – hal yang baik, sebanyak – banyaknya, lillahi ta’ala.
Focus itu bertahan, sehari? dua hari? Seminggu? Sebulan? 

Entah berapa waktu tepatnya, seiring dengan aktifitas sehari – hari bersama orang – orang, bisa membuat aku lupa tentang fokus itu. Tidak sepenuhnya lupa, tetapi hanya ingat seperberapa-nya. Nge-blur. Tidak fokus.
Mengecewakan dan dikecewakan.

Mengacuhkan dan diacuhkan.

Marah. 

Kesal. 

Merasa pintar. 

Sendiri.

Itulah, ketika yang mendominasi ‘apa yang aku lakukan’ adalah untuk seseorang dan orang lain. Dan untuk diriku sendiri. Namun ketika mereka tidak membalas, rasanya menyakitkan. 
Untuk kesekian kali pula, Dia menyadarkan apa yang sudah aku lakukan. Aku tahu, Allah Maha Baik. Dia sudah memberi tahu kunci kehidupan lewat banyak cara. Lewat pelajaran SD – kuliah. Lewat pengalaman. Yang paling pasti: Al Qur’an.
Ikhtiar

Sabar

Ikhlas

Tawakal 

Selalu bersyukur

(masih banyak sih…)
Semoga dengan momen sendiri kali ini, fokusku bertahan lebih lama. 

“Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan aku berikan?”. Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.” –Anis Matta

1

Akhirnya

Sejak malam, aku agak bergelut batin untuk agenda pagi ini. Di sekolah yang satu, ada pertandingan futsal guru perempuan dan siswi. Ya, sebagai kegiatan perayaan ulang tahun Indonesia. Di sekolah yang kedua, ada perlombaan futsal antar guru dan beberapa perlombaan lain. Dan sebelumnya, aku sudah punya rencana silaturahmi ke mantan sekolah yang tahun ini aku tinggalkan. Setelah itu, pergi belanja dengan ibu.

Cenderungnya, aku akan membatalkan acara silaturahmi dan shopping itu. Tidak ikut partisipasi di sekolah pertama juga. Alasannya karena aku ingin menonton lomba-lomba itu yang pastinya rame. Ada alasan lain juga sih. Maksudku, di sekolah yang kedua.

Dan pagi harinya, berubahlah haluan. Aku tetap pergi ke mantan sekolah dan sepertinya lanjut shopping. Ada beberapa pertimbangan.

Yeah.

image

Sedatangnya disana… Ketemu Bu Aan dan Bu Ria. Tahu komentar pertamanya?

“Mba, tambah gemukan ya.. Udah ngga ada pikiran ya?”

Ha? Serius.. -______-?

“Masa sih, Bu? Ngga Bu, biasa aja,”

Ngobrol-ngobrol, sambil sedikit kepo. Hihi.

And then, ketemu anak-anak yang dulu pernah diajar. Sekarang mereka kelas xii.

“Bu, mereka tuh yang pada kangen sama Ibu,” kata Bu Ria sambil menunjuk beberapa siswa yany lewat di depan ruang kantor.

Anak-anak itu. Mereka sepertinya pada kaget ketemu diriku lagi.

“Bu, ngajar disini lagi sih,”

“Bu, kangen diajar ibu maning cah,”

“Ke lab komputer yu Bu…”

Dan lain-lain.

Anak-anak itu laki-laki semua. Tidak jauh berbeda dari terakhir ketemu mereka. Wajahnya masih sama haha. Bedanya sekarang sudah agak rajin. Jumlah remedial mereka sudah berkurang. Tapi ada juga yang mengaku masih punya banyak hutang nilai.

Aku berharap semoga mereka jadi anak yang baik. Aamiin.

0

Rumah

image

IG: _afikaar

Dulu, sewaktu SD sampai SMP, begitu senang ketika hari minggu datang. Masa SMA sudah agak terbiasa. Maksudku, tidak terlalu mengistimewakan si minggu.

Oke, jadi kenapa aku begitu menyukai hari minggu?
Karena hari minggu, aku tidak perlu berangkat sekolah. Bisa nonton kartun dari pagi sampai siang di rumah. Hmm, itu saja?
Tidak juga. Alasan utamanya, aku tidak suka berada di sekolah. Tidak nyaman.

Kenapa tidak nyaman?

Waktu itu aku tidak percaya diri. Mau melakukan sesuatu teh takut salah. Takut menyakiti orang lain. Teman akrab, ngga punya juga. Jadi ya, sendiri. Selain itu, kesenggol sedikit (tersinggung atau dikatain) langsung mewek.

Karena itu, sempat berpikir bahwa aku akan hidup nyaman di rumah. Bekerja di rumah. Apapun, di rumah. Tidak pandai kalau harus berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain.

Ternyata itu hanya pikiran sementara.

Sekarang, entah dimulai darimana dan kapan, aku justru lebih suka kegiatan di luar rumah. Aku bekerja di sekolah dengan karakter orang yang berbeda-beda. Malah ada orang yang hobi pisan membuat kalimat panas. Aku tetep mewek? Ngga dong. Terhadap orang-orang yang seperti itu, justru tidak perlu dihindari. Aku tetap berteman sambil membuat situasinya adem sedikit-sedikit.

Berada di luar.. Belajar sosialisasi juga. Iya sih. Senang sekali melihat berjuta ekspresi mereka. Alam juga berbicara. Alam itu indah. Walau hanya sebentuk awannya.

Yeah, pada akhirnya, sejauh-jauhnya tempat pergi. Seindah-indahnya tempat di luar. Seseorang akan pulang ke rumahnya.

4

Do!

Kadang aku malas. Seringnya sangat malas. Termasuk, malas menulis juga.

Aku tidak punya target. Berjalan seadanya. Katanya mau jadi penulis buku, tapi akhir-akhir ini jadi berubah kalimatnya.

“Ah, mungkin tidak ditakdirkan jadi penulis…”

“Umur sudah seperempat abad, masih punya mimpi jadi penulis?”

Ya. Aku ingin meninggalkan cita-cita masa kecil itu.

Aah… Begitu banyak mimpi. Tapi (aku ingin menyalahkan rasa malas ini)…

Bukan begitu. Bukan karena malas, tetapi aku yang menyerah dengan mudah. Aku membiarkan aku hidup tanpa perlawanan. Tanpa strategi. Tanpa berjuang.

Apapun. Semuanya serasa dilepas. Seadanya. Toefl kagak jadi-jadi karena belum belajar. List lomba dicoret satu persatu karena terlewat. De el el.

Jadi, endingnya?
Satu kali lagi, sampai akhir Agustus.
Do!
Do!
Do!